Tuesday, February 20, 2007

BEBAS PANGAN 2008

Indonesia Bebas Masalah Pangan pada 2008?
Daniel H.T.Sun, 27 Aug 2006 11:39:43 -0700Catatan:Kalau ini benar2 bisa dibuktikan dan teruji secara ilmiah, bukan tidak mungkin Saputra akan menjadi putra Indonesia pertama sebagai penerima Nobel.Ir. Ciputra mengatakan optimismenya akan prospek nutrisi penemuan Saputra tersebut. Dia bilang, ini akan menjadi suatu revolusi. Rakyat Indonesia akan semakin sejahtera. Dan, selanjutnya penemuan ini akan go internastional. Yang juga akan menjadi revolusi di dunia pangan secara internasional. Ciputra akan menjadi distribusi utama di Indonesia, dan berjanji akan mengekspor poduk penemuan Saputra ini ke manca negara. Semoga semuanya akan menjadi kenyataan, seperti yang sudah lama kita impikan bersama. Semoga.
Bebas Masalah Pangan 2008 Keyakinan sang Penemu Nutrisi AjaibSURABAYA - Dua tahun lagi, Indonesia tidak akan dipusingkan masalah pangan. Bahkan, negara ini bisa menjadi lumbung pangan dunia. Keyakinan itu kemarin dilontarkan Umar Hasan Saputra, ilmuwan lulusan IPB (Institut Pertanian Bogor) yang berhasil menemukan formula ajaib. Formula tersebut telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas lahan pertanian di beberapa daerah. "Pada 2008, saya yakin Indonesia tidak akan menghadapi masalah pangan. Bahkan, Indonesia akan jadi lumbung pangan dunia," kata Saputra kepada Jawa Pos usai memberikan kuliah terbuka di depan ratusan mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya kemarin. Formula ciptaan Saputra itu semula diberi nama teknologi pembentukan nutrisi esensial. Formula nutrisi esensial tersebut mampu meningkatkan produktivitas panen padi. Ini sudah dibuktikan di beberapa daerah, antara lain, Karawang dan Bantul, Jogja. Nutrisi esensial ciptaan Saputra itu tidak hanya bermanfaat bagi tanaman, tapi juga bisa dipergunakan untuk kemanfaatan hewan dan manusia. Menurut Saputra, bagi hewan ternak, nutrisi itu bisa membuat lebih sehat. Bagi manusia, selain bisa menjadikan tubuh lebih sehat, nutrisi tersebut juga bisa membuat tubuh lebih langsing dan awet muda. Prinsipnya, formula nutrisi esensial ciptaan Saputra itu bisa membuat kerja tubuh menjadi enteng. Di dalam tubuh manusia, formula Saputra tersebut bisa membuat kerja sel-sel menjadi lebih ringan. Dengan demikian, metabolisme menjadi lebih baik. Tubuh pun tak perlu lagi menyimpan banyak metabolit (istilah untuk sampah metabolisme). Saputra melakukan penelitian tentang nutrisi esensial itu sejak 1993 dan baru mendapatkan hasil pada 2002. Keyakinan Saputra bahwa Indonesia dua tahun lagi bisa terbebas dari problem pangan itu didasarkan pada keberhasilan uji coba formulanya di lahan pertanian di sejumlah kota di Indonesia. Mulai di Gorontalo, Serang, Banten, Purwakarta, Bantul, Karawang, hingga Merbabu. Di beberapa daerah itu, nutrisi esensial ciptaan Saputra mampu melipatgandakan hasil pertanian dan mampu mendatangkan potensi bisnis ratusan triliun rupiah. Tepatnya, Rp 360 miliar per tahun. Rinciannya, dalam satu hektare lahan sawah, nutrisi esensial bisa menghasilkan panen padi dengan nominal Rp 10 juta. "Itu untuk satu kali masa tanam. Padahal, nutrisi ini bisa membuat masa tanam padi hingga tiga kali dalam setahun," ungkapnya. Dengan demikian, jika ditotal, dalam setahun, sawah petani bisa mendatangkan keuntungan Rp 30 juta. Nah, hasil survei menyebutkan, ada 12 ribu hektare lahan persawahan di seluruh Indonesia. Jika dikalikan hasil sawah per hektare, total pendapatan para petani di negara ini bisa mencapai Rp 360 miliar. "Itu dari persawahan saja. Padahal, di negara ini ada perkebunan. Mulai jagung, singkong, ubi, sayuran, bahkan hewan ternak. Bisa dibayangkan, betapa teknologi ini bisa membantu negara. Indonesia saat ini masih mengimpor bahan pangan dari negara luar. Dengan teknologi nutrisi itu, Indonesia akan menjadi eksporter," tegas pria 36 tahun tersebut optimistis. Saputra menyatakan, hasil temuannya tersebut tak hanya bisa digunakan di lahan pertanian yang kering dan minim air. Nutrisi esensial ciptaannya juga bisa digunakan untuk lahan berkapur, bahkan tanaman yang hidup di batu cadas. Sehingga, nutrisi yang disebut sebagai revolusi biru tersebut juga cocok untuk lahan-lahan yang selama ini terkenal kering seperti di Nusa Tenggara Timur. "Saat kami uji coba di Bantul, lahannya sangat parah. Bahkan, karena kekeringan, tanahnya sampai retak-retak. Tapi, hasil panennya tetap bagus setelah menggunakan formula kami," ungkapnya. Kemarin, teknologi nutrisi esensial ciptaan Saputra tersebut diberi label baru. Jika sebelumnya diberi nama Water Stimulating Feed (WSF), kemarin nama itu diganti menjadi Saputra Nutrient (SN) atau Nutrisi Saputra. Yang memberi nama tersebut adalah bos Ciputra Group Ir Ciputra. Pengusaha yang dijuluki The Developer itu sejak awal memang sangat tertarik pada temuan Saputra. Bahkan, pria 75 tahun tersebut berjanji akan memopulerkan temuan Saputra ke dunia internasional. Saat diwawancarai Jawa Pos kemarin, Saputra kembali menjelaskan fase ilmiah hasil penelitian yang dilaksanakan lebih dari 10 tahun itu. Dia menyatakan, SN mampu mempersingkat tiga tahap metabolisme dalam tubuh hewan, manusia, dan tanaman. "Intinya, ada lima tahap saat makhluk hidup menyerap nutrisi ke dalam tubuh. Pertama, tahap ingestion. Kedua, predigistion. Ketiga, digestion. Keempat, absorption. Dan, terakhir metabolisme," jelasnya. Artinya, secara normal, saat masuk ke dalam tubuh makhluk hidup, makanan atau minuman akan melewati lima tahap tersebut. SN memotong tiga mata rantai penyerapan nutrisi. Begitu masuk ke dalam tubuh, SN langsung diserap (absorption) kemudian melewati tahap metabolisme. "Sehingga, sel tidak terlalu lelah bekerja. Karena itu, hal ini akan mampu menahan penuaan," ungkapnya. Saputra juga sempat sedikit menceritakan soal suka duka penemuan formula ajaibnya tersebut. Selama penelitian, dia mengaku menemui banyak kegagalan. Sehingga, penelitian dilakukan lebih dari 10 tahun. Tak hanya gagal, sejumlah peneliti juga sempat menyebut bahwa Saputra gila. Sebab, penelitian yang dilakukannya dianggap tidak masuk akal. "Banyak yang menyebut saya gila. Tapi, nggak apa-apa. Saya punya syair, sekarang ini zaman edan, sehingga kita harus edan. Sebab, kalau kita edan pada zaman edan, berarti kita tidak edan. Atau begini, perkalian negatif dengan negatif menghasilkan positif," ujarnya. Meski sudah menemukan formula, Saputra menyatakan, nutrisi esensial dari alam lebih baik daripada hasil penelitiannya. "Tidak ada yang lebih baik yang dibuat seperti alam. Tapi, setidaknya, (hasil penelitian) saya mengarah ke situ (seperti nutrisi alami)," tegasnya. (fid) # Mohon bersikap bijak dan pakailah selalu bahasa yang santun dalam berpendapat #

No comments: